Manusia yang berpendidikan itu akan terlihat dari cara ia memperlakukan orang lain.
Kalimat itu ada benarnya. Kita seringkali menjumpai orang-orang yang berpendidikan tinggi, punya berbagai macam prestasi gemilang, dan jadi idaman semua orang. Cara bicaranya terstruktur, terorganisir, dan membuat siapapun terpukau. Namun, tak jarang dari mereka yang tidak menunjukkan adab yang seharusnya. Tentunya, hal itu menjadi bukti bahwa sekolah yang tinggi, tidak menjadikan seseorang pantas dilabeli berpendidikan.
Kita pasti sering melihat orang orang yang berkuliah di universitas ternama di Indonesia, atau di universitas top dunia yang terlihat arogan. Mereka enggan mendengarkan orang lain, dan selalu menganggap diri paling benar. Dari sini, kita bisa ambil kesimpulan bahwa kualitas adab seseorang tidak bisa dilihat berdasarkan seberapa tinggi pendidikannya, namun, seberapa mampu dia dalam handle situasi yang bikin dia gak nyaman, suasana seperti apa yang mengharuskan dia serius atau lebih santai.
Lantas, apakah pendidikan itu tidak penting dan adab lebih penting? Untuk menjawab hal tersebut, kita harus paham bahwa pendidikan dan adab adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Keduanya berjalan beriringan. Namun, jika hanya punya adab dan dari segi pendidikan formal kurang, hal itu masih bisa dimaklumi karena mereka paham cara membawa diri dengan baik, dan banyak orang yang lebih mengapresiasi hal tersebut. Sedangkan untuk orang yang mengenyam pendidikan formal, akan sangat tidak bisa ditoleransi jika mereka tidak beradab.
Hal ini berdasarkan apa yang sering kita lihat di masyarakat. Penulis pernah punya pengalaman bagaimana tidak beradabnya seseorang yang punya sesuatu atau dengan kata lain, dilebihkan dari segi harta dan pendidikan formal. Mereka merasa punya superpower dan mereka dengan enaknya membuang sampah sembarangan ke luar mobilnya. Hal itu menodai esensi pendidikan yang suci. Seharusnya, orang yang dilebihkan tersebut lebih mampu menunjukkan hal-hal yang baik kepada orang banyak. Tapi, bagaimana menurutmu?


